Opini Nasional

Akidi Tio dan Pejabat Negara yang Pelit

Berita Opini

OPINI Nasional – Sergapreborn

Oleh : Mukhlis el-Rifqi

Luar biasa keluarga Akidi Tio asal Aceh yang bersedekah Rp 2 trilyun melalui Polda Sumbagsel. Tidak ada publikasi yang heboh, tapi kejadian ini menohok para sosialita dan pejabat negara yang bergelimang harta tapi bakhil bin pelit. Nama-nama tenar di panggung istana negara yang kaya lewat jabatan, belum ada beritanya menyumbangkan uang pribadi untuk masyarakat.

Akidi Tio membuka mata bahwa selama ini pejabat negara yang selalu dibiayai negara ternyata bukan orang dermawan. Mereka hanya calo bantuan negara tapi diklaim sebagai kebaikan mereka karena melekat sebagai pejabat negara. Malah yang kejam adalah Mensos Julaliari Batubara dan Menteri KKP Edi Prabowo, dua manusia itu bahkan tidak punya jejak kedermawanan. Kedua menteri ini justru menggarong uang negara lewat berbagai modus yang licik. Mereka tidak punya
kebiasaan sedekah dan menyumbang tanpa motivasi politik dan kekuasaan. Makanya dengan kemunculan keluarga Akidi Tio, pelit dan bakhilnya para pembesar negara semakin terlihat nyata.
Ini kisah di negeri sebelah. Negerinya Pakde Lurah yang dikenal sederhana dan tak neko-neko.

Di sebuah negeri Astina juga ada kisah yang mirip dengan kisah di negeri Pakde Lurah. Dinasti Kurawa saat ini sedang bertahta. Kaum Pandawa sama sekali tidak bisa berkutik oleh Dinasti Kurawa.

Bayangkan negeri Astina yang kaya ini dipimpin oleh mereka yang “kemaruk” harta dan taha lewat berbagai saluran atas nama negara Astina. Pikiran dan hati mereka mati sehingga tidak malu berbuat kezaliman dan kebakhilan massal.

Rakyat Astina semakin paham dan mengerti karakter orang yang memimpin negerinya ini benar-benar kaum rakus. Makanya rakyat Astina menjadi apatis dengan kebijakan Raja Kurawa.

Raja Kurawa jagoan pidato kebijakan negara, tapi dialah aslinya yang menjadi mesin pencabut nyawa rakyatnya. Mereka menebar teror dan peperangan kepada Dinasti Pandawa.

Rakyat Astina pun makin terbuka mata hatinya. Mereka jadi paham jati diri siapa dan bagaimana Dinasti Kurawa memimpin Astina.

Pada zaman Kerajaan Astina yang korupsi dan menghamburkan uang negara bukan tukang cangkul, bukan tukang becak, bukan pedagang kecil dan bukan pengemis. Tapi mereka yang digaji oleh kerajaan kemudian berubah menjadi zombi kerajaan.

Zombi-zombi anggaran kerajaan Astina difasilitasi oleh uang kerajaan dan dijaga dengan protokol imunitas anti kritik dan anti kebencian khas Kurawa. Dengan jabatan dan seragam simbol kerajaan mereka menjadi kebal hukum karena pasal-pasal bukan harga mati.

Bagaimana dengan negerinya Pakde Lurah? Zaman berbeda dan pelaku berbeda. Tapi pola sejarah ada kesamaan, yakni semua punggawa Pakde Lurah tidak ada yang semulia Akidi Tio.

(***)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button