Sergapreborn Jawabarat – Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) menerapkan pendekatan berbeda dalam menangani maraknya penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi alias knalpot brong.
Tak sekadar menilang, kepolisian mengedepankan tindakan persuasif dan humanis hingga memicu kesadaran warga untuk menyerahkan knalpot bisingnya secara sukarela.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto mengungkapkan bahwa dari total 9.128 knalpot nonstandar yang berhasil disita, sebagian di antaranya didapat dari kesadaran para pengendara itu sendiri setelah diberi pemahaman oleh petugas di lapangan.
“Kami mengamankan sekitar 9.128 knalpot nonstandar melalui penindakan maupun kegiatan-kegiatan secara persuasif.
Masyarakat juga ada yang menyerahkan secara sukarela untuk diganti dengan knalpot standar,” kata Irjen Pipit di Mapolda Jabar, Jumat (7/8/2026).
Irjen Pipit menegaskan bahwa jajarannya ingin mengubah stigma razia jalanan yang terkesan kaku. Menurutnya, edukasi dan penyadaran jauh lebih penting agar masyarakat memahami dampak kebisingan yang ditimbulkan terhadap kenyamanan publik.
“Jadi kita juga harus humanis, edukatif kepada masyarakat. Seluruh upaya ini ditujukan untuk mengurangi sumber keresahan serta menghadirkan Jawa Barat yang lebih nyaman, lebih aman, dan lebih tertib,” ujarnya.
Pendekatan edukatif yang diusung Polda Jabar mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi menilai pola penanganan yang persuasif sangat efektif untuk mendisiplinkan para pengendara tanpa menimbulkan kegaduhan baru di jalan raya.
“Terima kasih pada Pak Kapolda Jabar yang memulai operasi dari Tiis Ceuli. Tiis Ceuli adalah merupakan operasi untuk jalan bukan pusat kebisingan, jalan bukan pusat kesemrawutan, jalan bukan pusat konflik, dimulai dengan mendisiplinkan para pengendara kendaraan bermotor khususnya roda dua untuk menggunakan knalpot standar,” kata Dedi.
Guna memperkuat skema humanis kepolisian tersebut, Pemprov Jabar akan menyiagakan knalpot standar gratis di pos-pos razia lalu lintas khusus untuk masyarakat kelas bawah.
“Nanti saya titipkan ke para satuan lalu lintas yang operasi. Nanti bisa disimpan di pos-pos, mereka ketika operasi langsung ke pos, langsung ganti boleh pulang,” tutup Dedi.
Mulyani***








