Opini Nasional

Sultan Ageung Tirtayasa, Sang Wakil Khalifah Pemersatu Tatar Sunda dan Tlatah Jawi

Opini Nasional Sergapreborn Sultan Ageung Tirtayasa ialah Sultan Abu al-Fath Abdul al-Fattah Pangeran Adipati Surya ibn Abu al-Ma’ali Ahmad ibn Abu al-Mafakhir Abdul Qadir Pangeran Ratu ibn Maulana Muhammad Pangeran Seda ing Palembang ibn Maulana Yusuf Pangeran Pasarean ibn Maulana Hasanuddin Pangeran Saba Kingkin ibn Panetep Panatagama Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah al-Husaini. Beliau menjadi sultan di Banten Surasowan yang wilayahnya meliputi Banten, Jayakarta, Pakuan, Tangerang dan Lampung, melanjutkan sang kakek, Sultan Agung Banten Abu al-Mafakhir karena sang ayah wafat terlebih dahulu.

Pada tahun 1638 M, Wali Khilafah Utsmaniyyah di Hijaz, Syarif Zaid ibn Muhsin al-Hasani menetapkan gelar sultan bagi pemimpin Banten, yang disampaikan kepada utusan Banten ke Mekkah, diantaranya Mas Wangsaraja, kelak berganti nama menjadi Haji Wangsakara, pendiri Kaariaan Tangerang dan Imam – Mufti Kesultanan Banten, yang berarti pengangkatan resmi melalui akad wilayah ‘ammah bahwa Sultan Abu al-Mafakhir menjadi Amir al-Bilad, yakni pemimpin bagi negerinya. Syarif Zaid mewakili Amir al-Mu’minin al-Ghazi Khalifah Murad Khan ibn Ahmad al-‘Utsmani, bukan hanya memberikan gelar kepada pemimpin di Banten, namun juga Mataram dan Makassar. Hanya saja, pada tahun 1641 M utusan Mataram datang langsung ke Mekkah, kemudian sepulang dari sana menerima amanah berupa gelar sultan bagi Panembahan Hanyakrakusuma, kelak dikenal sebagai Sultan Agung Mataram.

Pada saat itu, Mataram bukan hanya menguasai Tlatah Jawi dan Madura, namun juga sebagian pemimpin Tatar Sunda di Cirebonan, Priangan dan Banyumasan, yakni Panembahan Ratu Cirebon, Pangeran Rangga Gempol I Sumedang, Pangeran Rangga Gede Sumedang, Adipati Aria Wiratanu II Tarikolot, Tumenggung Wiraangunangun I Ukur, Tumenggung Wiradadaha I Sukapura, Raden Panji Jayanegara Galuh dan Tumenggung Mertayuda I Banyumas yang juga memimpin tanah perdikan Cahyana dan Gumelem, menyatakan taat kepada Mataram.

Oleh karena itu, sejak tahun 1641 M seluruh Tatar Sunda dan Tlatah Jawi telah resmi menjadi bagian wilayah Khilafah Utsmaniyyah secara langsung, diwakili kedua Amir Utsmaniyyah, yakni Sultan Agung Banten dan Sultan Agung Mataram. Bendera Banten dengan warna kuning dan simbol pedang cabang dua (Dzulfiqar) serta Bendera Mataram dengan warna merah dan simbol bulan sabit menguatkan bukti hubungan erat antara Khilafah Utsmaniyyah dengan keduanya.

Akan tetapi, setelah Sultan Agung Mataram wafat tahun 1645/1646 maka semua wilayah Mataram Islam mulai dari Cirebonan dan Priangan hingga Madura dalam pengaruh kuat kafir Belanda. Penguasa Mataram berikutnya, yakni Susuhunan Amangkurat I tidak melanjutkan jejak sang ayah untuk meminta mandat kuasa dari Khilafah Utsmaniyyah, justru menjalin hubungan erat dengan musuh khilafah, yakni kafir Belanda.

Tentu saja, hal tersebut menimbulkan reaksi keras dari para ulama dan sebagian umara semisal Banten, Giri, Tegal dan Madura sehingga hubungan mereka dengan Amangkurat I saling menjauh bahkan terjadi konflik dan perlawanan. Dalam situasi tersebut, amanah Panembahan Ratu Cirebon tak terlaksana, yakni untuk tidak mengusik Banten. Atas kegagalan di Peristiwa Pagarage maka Panembahan Girilaya ditahan di ibukota Mataram hingga wafat di sana, sedangkan kedua putranya, Kartawijaya dan Martawijaya tidak diizinkan pulang ke Cirebon.

Berbeda dengan Mataram, penerus Sultan Abu al-Mafakhir, kelak dikenal sebagai Sultan Ageung Tirtayasa melanjutkan jejak sang kakek dengan mengirim utusan ke Mekkah, kemudian mendapatkan gelar Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah dari Syarif Mekkah di masa Amir al-Mu’minin al-Ghazi Khalifah Muhammad Khan ibn Ibrahim al-‘Utsmani setelah wafatnya sang kakek dan menerima amanah kesultanan. Dalam Sajarah/Babad Banten disebutkan:

“Kengkeng iki, Ki Santri Betot iki, rencange rekeh pipitu, Ka (Ki) Ariya tur sabda, lan sakehing para wargi, samya matur inggih, leheng aputusan, mila manira kongkonan, arsa ngaturi uning, yen Sultan Agung sumalah, pinangka kang anggentosi, manira anedha malih, ing gaganti jenengipun, anedha kang putusan, saking Sultan Mekkah malih, samya jurung sakathahing para warga.”

Artinya: Paman Aria Mangunjaya, “Aku sekarang ingin, mengirim utusan ke Mekkah, yang aku suruh ini, adalah Ki Santri Betot, dan temannya bertujuh”, Ki Aria berkata, dan semua para warga, sekalian berkata, “Iya, lebih baik kirim utusan, sebabnya aku mengirim utusan, ingin memberitahu, bahwa Sultan Agung sudah meninggal, (aku) yang dijadikan penggantinya, aku juga memohon (agar) mengganti namaku, meminta dikirim utusan, dari Sultan Mekkah, para warga semua mendorong”.

Sultan Ageung Tirtayasa melanjutkan amanah sang khalifah di Istanbul dalam menegakkan agama dan mengatur urusan dunia, serta jihad fi sabilillah. Pada intinya, jejak sang kakek dan para pendahulunya senantiasa dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Semua wilayah Banten Surasowan diterapkan hukum-hukum Islam, terutama dibantu para Ki Ali (Qadhi), dikenal sebagai Faqih Najmuddin. Kesatuan negara dan wilayah kaum muslimin diupayakan secara nyata. Pendidikan Islam semakin dikuatkan melalui lembaga Kasunyatan. Pasar-pasar dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan dengan kaum kafir dijalin berdasarkan pembagian fiqih: dzimmi, mu’ahid dan harbi, termasuk dalam masalah ekonomi dan perdagangan.

Langkah berani Sultan Ageung Tirtayasa yang lebih maju dari pendahulunya ialah upaya menyatukan seluruh Tatar Sunda dan Tlatah Jawi hingga Madura serta menantang kafir Belanda dengan menghapus pengaruh mereka dari wilayah kaum muslimin, rakyat Khilafah Utsmaniyyah. Tentu saja, beliau mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Tegal, Giri, Madura, Makassar dan Bali. Kematian Amangkurat I dan berkuasanya Amangkurat II menjadi momentum “Perang Besar” terhadap kafir Belanda yang menguasai Mataram, sekitar tahun 1677–1679 M.

Sultan Ageung Tirtayasa bersama Panembahan Maduretna Pangeran Trunajaya bekerja sama membebaskan Mataram dari Belanda. Trunajaya menggempur Mataram dari arah Timur, dibantu pasukan Giri dan Makassar hingga menyebabkan Susuhunan Amangkurat I terusir sampai ke Tegal, kemudian digantikan Amangkurat II yang semakin tunduk kepada Belanda. Adapun Sultan Ageung Tirtayasa mengembalikan kedua putra Panembahan Girilaya ke Cirebon lalu menetapkan keduanya sebagai Sultan Sepuh Syamsuddin dan Sultan Anom Badruddin dengan pembagian wilayah dan keraton masing–masing, yang sebelumnya diamanahkan kepada Pangeran Wangsakerta. Sejak saat itu, Cirebonan, termasuk Galuh, Dermayu dan Talaga kembali menjadi bagian Khilafah Utsmaniyyah.

Selanjutnya, Sultan Ageung Tirtayasa menggempur Mataram dari arah Barat, yakni membebaskan Priangan, meliputi Karawang, Cianjur–Jampang, Ukur-Sagalaherang, Sumedang–Limbangan dan Sukapura dari pengaruh kafir Belanda atas restu Aria Tangerang Imam Haji Wangsakara trah Sumedanglarang dan didukung Sultan Sepuh Syamsuddin Cirebon, Bupati Ukur Tumenggung Wiraangunangun dan Bupati Sukapura Tumenggung Wiradadaha. Dalam Paririmbon Kaariaan Tangerang disebutkan perintah Sultan Ageung Tirtayasa:

“Sumedang kudu dijorag ayeuna keneh, ti Kakang Imam ngatur baladbalad di bagian darat, ti kaula ngatur balad bagian laut, mangga bismillah, ngarebut hak sorangan tangtuna halal.”

Artinya: Sumedang harus diserang sekarang juga, Kang Imam Aria Wangsakara mengatur tentara dari darat. Saya mengatur tentara dari laut. Silahkan bismillah! Merebut hak sendiri jelas halal.

Pada tahun 1678, Priangan telah dibebaskan dari Belanda dengan ditetapkan Kyai Ngabehi Sacadiprana Cili Widara, Panglima Bali sebagai pemimpin Sumedang, dibantu sang patih, Aria Sacadiraja Wiraangunangun. Perlawanan sebagian penguasa Tatar Sunda yang tunduk kepada Mataram–Belanda semisal di Dermayu dan Sumedang berhasil dipadamkan. Dengan demikian, sejak tahun 1678 Priangan kembali menjadi bagian Khilafah Utsmaniyyah mengikuti Cirebon.

Setelah penggabungan kembali Cirebon dan Priangan maka seluruh Tatar Sunda secara utuh dalam kuasa wakil Khalifah Sultan Ageung Tirtayasa Abu al-Fath Abdul Fattah al-Bantani. Peran Pangeran Trunajaya dapat dipahami sebagai Amir al-Jihad/Senapati di Tlatah Jawi, sebagaimana Cili Widara di Priangan. Kemenangan tersebut menjadi kabar gembira bagi para ulama Mataram yang hijrah dan bermukim di Banyumasan dan sekitarnya, akibat kezaliman penguasa Mataram setelah Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Perjuangan Sultan Ageung Tirtayasa sebagai wakil khalifah di Tatar Sunda dan Tlatah Jawi terus berlanjut hingga wafatnya, dalam situasi jihad fi sabilillah melawan kafir penjajah Belanda, terutama pada tahun 1682–1683 M. Sang Amir Khilafah Utsmaniyyah dibantu Imam Kesultanan pengganti Haji Wangsakara, yakni sang menantu, al-Qadhi Syaikh Muhammad Yusuf al-Makassari, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan; keduanya ulama Jawiyyin – alumni al-Haramain sanad Imam Ahmad al-Qusyasi, sang putra, Pangeran Purbaya dan Dalem Sewidak Tumenggung Wiradadaha III. Meskipun pada akhirnya kafir penjajah berhasil memecah belah Banten, Priangan dan Cirebon serta memperkuat pengaruhnya, namun perjuangan tetap berlanjut semisal oleh Haji Prawatasari di Jampang (1703–1707 M), Kyai Tubagus Mushthafa di Banten (1750-an M) dan Ki Bagus Rangin di Cirebon (1802–1812), bahkan berkaitan dengan perlawanan Kyai Abdul Hamid Pangeran Dipanegara (1825–1830 M), terutama melalui sanad Syaikh Abdul Muhyi. (A.A.A)

Sumber:
Babad/Sajarah Banten, dinukil dalam Menelusuri Jejak Kesultanan Banten, Prof. Titik Pudjiastuti
Carita Purwaka Caruban Nagari, dinukil ringkas dalam Sunan Gunung Jati: Antara Fiksi dan Fakta, Dr. Dadan Wildan
Paririmbon Kaariaan Tangerang, dinukil ringkas dalam Aria Wangsakara Tangerang: Imam Kesultanan Banten, Ulama–Pejuang Anti Kolonialisme, Mufti Ali, Ph.D
Sajarah Cikundul, dinukil dalam Sajarah Cikundul: Kajian Sejarah dan Nilai Budaya, tim penulis Depdikbud
Sajarah Sukapura, dinukil dalam Sajarah Sukapura: Sebuah Telaah Filologis, Dr. Emuch Hermansoemantri
Sajarah Sumedang, dinukil ringkas dalam Sajarah Sukapura: Sebuah Telaah Filologis, Dr. Emuch Hermansoemantri
Sejarah Wirasaba, dinukil ringkas dalam Menuju Keemasan Banyumas, Prof. Sugeng Priyadi
Babad Sumedang, dinukil ringkas dalam Naskah Sunda Lama di Kabupaten Sumedang, tim penulis Depdikbud
Babad Dermayu, dinukil ringkas dalam Babad Dermayu, Muhammad Mukhtar dan Ki Tarka

(***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button