Opini Nasional

Bijak Menghadapi Covid 19

Opini Nasional – Sergapreborn

Ciamis, 4 Juli 2021

Oleh A. Mukhlis el-Rifqi (Penggiat Sufi Jalanan)

Narasi Covid19 dengan segala variannya menjadi momok yang menakutkan. Suasana yang mencekam tentu saja menimbulkan kepanikan. Bagaikan teror yang selalu menyerang ketahanan tubuh manusia. Covid19 menjadi utusan malaikat maut yang kapanpun bisa bertindak mencabut nyawa.

Bagaimana kaum sufi memandang situasi yang serba menakutkan ini? Kajian tentang penyakit dan tanda-tanda alam bagi kaum Sufi bukan hal yang baru. Sejak awal munculnya gaya hidup sufi dengan ilmu tasawufnya, sudah ada sufi yang bisa berdialog dengan bangsa virus.

Semua makhluk yang ada ruhnya bisa diajak bicara oleh kaum Sufi yang sudah mukasyafah. Maka tidak heran kaum sufi bisa memprediksi kapan wabah menyerang dan kapan berakhir.

Dalam literatur kuno, virus yang mengganas biasa disebut thoun dan wabah. Sejak zaman Nabi Muhammad telah ada yang namanya wabah menular. Kala itu Nabi Muhammad memberikan pelajaran bahwa menghadapi wabah selain secara ruhiyah juga ikhtiar fisikiyah.

Jauh sebelum orang Barat lewat WHO mengenalkan virus Corona dengan variannya, 1400 tahun yang lalu protokol kesehatan sudah dipraktekkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Pola penanganan wabah ini mereka adopsi dan kemudian dijadikan protokol kesehatan yang universal.

Kata kunci dalam menghadapi wabah menurut pandangan kaum Sufi ialah meningkatkan energi imunitas melalui saluran ilahiyah dan ikhtiariyah. Kaum Sufi punya tradisi zikir dengan segala variannya untuk meningkatkan energi di ruhani dan jasadnya. Mereka yang ahli zikir rata-rata punya imunitas dan ketahanan energi yang luar biasa.

Zikir akan mengisi energi spiritual seseorang agar selalu terkoneksi dengan sang ilahiyah. Sedangkan ikhtiar untuk kesehatan jasadnya, sudah sejak lama Islam mengajarkan thoharoh (bersuci) tak hanya sekadar cuci tangan. Islam juga mengajarkan jaga jarak dan bermasker alamiah lewat tradisi berjenggot bagi lelaki. Kemudian bagi kaum muslimah dianjurkan menggunakan hijab lengkap dengan masker Islami.

Selain itu Nabi juga mengajarkan Lockdown bagi daerah yang terkena wabah menular. Lockdown zaman awal Islam dipraktekkan oleh para Kholifah untuk memutus mata rantai virus menular.

Di masa wabah Corona ini, sebagai muslim tidak perlu panik dan ketakutan oleh semua narasi Corona yang mencekam. Kita sikapi biasa saja dengan tetap mengedepankan rasionalitas dan spiritualitas. Jangan termakan narasi hoax dan upaya penyesatan informasi yang akhirnya merugikan diri sendiri.

Memilih gaya hidup Sufi itu sama artinya dengan menyiapkan diri menjadi insan kamil, yakni manusia yang tegar menerima keadaan apapun. Kaum Sufi sudah ditempa lahir batin lewat riyadhoh dan perjalanan sunyi yang terisolasi. Mereka berpuasa, bertapa, berzikir, berpikir dan menerawang merupakan hal yang biasa.

Teror dari syetan dan Iblis sudah biasa diterima kaum sufi. Maka ketika ada teror Corona dengan segala dampaknya, kaum Sufi tetap waspada dan menjaga imunitasnya. Bagi yang terbiasa hidup hedonis dan glamour, maka narasi corona akan terasa menakutkan. Berita kematian yang silih berganti akan menurunkan imunitas mereka. Lalu pelan-pelan mereka masuk daftar antrian yang tinggal menanti takdirnya…

(***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button