Sergapreborn Jakarta – Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang kembali menegaskan fungsinya bukan hanya sebagai tempat pembinaan, tetapi juga ruang pemurnian spiritual. Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, suasana religius terasa kuat di balik tembok tinggi lapas terbesar di Indonesia itu.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menyampaikan bahwa sejak malam pertama Ramadan, warga binaan langsung menunjukkan antusiasme luar biasa dalam menjalankan ibadah.
“Sejak penetapan awal Ramadan sesuai keputusan pemerintah pada 19 Januari hingga Februari 2026, malam pertamanya kami langsung melaksanakan salat tarawih berjamaah. Antusiasme warga binaan sampai hari ini luar biasa. Bahkan setelah tarawih, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an,” ujar Wachid saat memberikan sambutan di masjid lapas.
Tidak sekadar menjalankan rutinitas ibadah, Ramadan tahun ini di Cipinang dipenuhi target spiritual yang ambisius namun membangkitkan semangat kolektif. Pada pembukaan tarawih 4 Maret 2026 lalu, Kepala Lapas mencanangkan satu target besar: satu hari satu khatam.
Target tersebut bukan sekadar simbolis. Hingga hari kelima Ramadan, warga binaan telah menuntaskan empat kali khatam Al-Qur’an.

“Harapan kami satu hari satu khatam. Sehingga dalam 30 hari Ramadan, bisa mencapai 30 kali khatam. Hari ini sudah hari kelima dan sudah empat kali khatam. Artinya, target itu berjalan sesuai harapan,” tegas Wachid.
Program ini menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang menitikberatkan pada penguatan nilai spiritual dan moral. Kegiatan Ramadan di dalam lapas tidak hanya bersifat internal, tetapi juga mencakup layanan sosial bagi masyarakat, memperkuat dimensi kemanusiaan dalam sistem pemasyarakatan.
Di balik jeruji, gema ayat suci bersahutan setiap malam. Bagi para warga binaan, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum refleksi, penyesalan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
Ramadan 1447 H di Cipinang menjadi bukti bahwa pembinaan bukan sekadar proses administratif, melainkan perjalanan batin — dan di sanalah cahaya perubahan mulai dinyalakan.
(Mulyani)








