Palembang

Soal Saksi Tambahan, Korban: Tolong Pak Hakim. Saksi Juga Termasuk Dizholimi Terdakwa

PALEMBANG −Sergapreborn

Kehadiran Rojak Bahtum (82) sebagai saksi utama tambahan, dalam Sidang lanjutan kasus dugaan pidana memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik, atas Terdakwa Tjik Maimunah mengaku pemilik Surat Pengakuan Hak (SPH) terhadap saksi korban yang merasa dirugikan yakni Ratna Juwita Nasution pemilik surat Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah/lahan 16.900 M.

Sepertinya masih menjadi tanda tanya besar, apakah berani Majelis Hakim dalam hal ini akan mengabulkan permintaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan Rojak Bahtum, demi mencari fakta kebenaran seputar tanah milik Ratna Juwita Nasution Sertifikat Hak Milik (SHM) yang diduga di kuasai terdakwa Tjik Maimunah melalui kepemilikan SPH.

Korban Ratna Juwita Nasution saat ditemui diluar persidangan mengatakan, dia (terdakwa Tjik Maimunah,red) menggarap lahan disitu ditahun 1960 sedangkan umurnya baru 13 tahun. “Ini tidak masuk akal semuanya itu bohong tidak ada yang bener, keterangan saksi itu mengada-ada sama dengan ibunya (terdakwa Tjik Maimunah), surat SPH itu diterbitkan terdaftar di Kecamatan tetapi isinya bohong, mengarang semua,” ungkap Ratna.

Soal singgungan dari Pengacara terdakwa mengenai apakah benar ada barakuda yang di tempatkan pelapor pada pengukuran tanah. Ratna Juwita Nasution sebagai korban sekaligus Pelapor meluruskan pernyataan tersebut.

Menurut Ratna Juwita Nasution, pernah ada namanya Firza sebagai pemilik tanah disitu, dia datang membawa petugas BPN mau menerbitkan Sertifikat bersebelahan dengan tanah miliknya.

“Itu bener, dia membawa barakuda karena keluarganya deket dengan polisi, itu terserah dia. Dan itu bukan urusan saya, sedangkan saya tidak ada. Bapak itu membawa anggota karena daerah disitu rawan. Kebeneran barakuda ini lewat maka dia panggillah kesitu. Tetapi bukan untuk menyerang orang,” jelas Ratna.

Kepada Majelis Hakim besar harapan korban Ratna Juwita Nasution, Dalam hal ini minta seadil-adilnya.

“Karena itu surat saya Sertifikat dari tahun 1959 dan tahun 1979 ada semua sertifikatnya turunannya juga ada serta tahun 1980. Akhirnya saya membeli di tahun 2013-2014. “Dia (terdakwa,red) bilang tidak pernah ada laporannya, itu Rojak Bahtum melaporkan Tjik Maimunah di tahun 2015. Anaknya Ijjudin merusak pagar saya, ada bukti saya laporan polisi tahun 2015. Mereka sudah bohong semua katanya 2019. Yang mana tanah dia, ukuran surat dia pun dengan keadaan tanah sekarang tidak ada,”bebernya.

Beranda Headline
HeadlineHukum Dan KriminalSIDANG
Soal Saksi Tambahan, Korban: Tolong Pak Hakim. Saksi Juga Termasuk Dizholimi Terdakwa
Penulis sumatera news – Mei 19, 2021074

Lanjut Ratna Juwita Nasution, bahwa tanah miliknya hanya 6000 meter, sebetulnya tanah kaplingan kantor pajak seluas 16.900 meter, yang punya tanah sebanyak 35 orang.

“Saya mohon Majelis Hakim terhadap saksi Rojak Bahtum segera dihadirkan, karena beliau ini sama dengan saya orang yang terzholimi juga. Dan beliaulah saksi yang masih hidup membeli tanah di tahun 1980 yang satu Sertifikat Induk dengan saya. Sekarang tanah beliau juga di tembok dan dijual. Padahal beliau ini punya anak Kombes loh di BIN,”pungkas Ratna.

Terpisah diluar persidangan menurut Tities Rachmawati, bahwa pihak Ratna Juwita melaporkan seolah-olah ada mafia tanah padahal fakta dipersidangan, yang mafia itu siapa, membawa alat berat barakuda, memakai kekuatan alat negara.

“Itu yang mafia yang harusnya kita tuntaskan, jangan orang yang garap lahan. Yang bener-bener nguasaiin tapi tiba-tiba dituduh mafia. Dengan sertifikat yang dipecahkan dengan pemilik asalnya pun kita tidak tahu, memang betul saksi tadi Fahrurozi adalah anak terdakwa (Tjik Maimunah) memang tidak boleh berbatasan tanah dengan anak kandung, memang dilarang secara hukum. Kalau orang tuanya membagi tanah ke anaknya kan gak ada masalah. Yang masalah itu harusnya Ratna Juwita menuntut tempat yang dia beli bukan jangan tuntut orang yang sekarang, karena ini keluarga saya sendiri sampai kapan pun akan saya bela,” tukasnya.

Untuk diketahui dalam persidangan agenda keterangan saksi Fahrurozi anak dari terdakwa Tjik Maimunah, yang dihadirkan Penasehat Hukum terdakwa Tjik Maimunah yakni Tities Rachmawati SH, dihadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kiagus Anwar SH dan Majelis Hakim yang diketuai Toch Simanjuntak SH MHum. Usai persidangan JPU meminta Majelis Hakim untuk mengabulkan JPU untuk menghadirkan saksi Rojak Bahtum sebagai saksi utama tambahan. Pada persidangan selanjutnya. Namun hal ini masih dipikirkan oleh Majelis Hakim.

“Bukannya kita menolak sebagai saksi tambahan, namun masih kita pikirkan dan musyawarah terlebih dahulu dan lebih penting kita dahulukan prioritas,”jawab Toch Simanjuntak kepada JPU, pada sidang secara virtual di Pengadilan Negeri Palembang Klas IA Khusus Sumsel, Rabu (19/05/21).

Sementara itu dihadapan Majelis Hakim, Penasehat Hukum terdakwa Tjik Maimunah Tities Rachmawati SH, menyatakan keberatan akan kehadiran saksi tambahan tersebut.

Beranda Headline
HeadlineHukum Dan KriminalSIDANG
Soal Saksi Tambahan, Korban: Tolong Pak Hakim. Saksi Juga Termasuk Dizholimi Terdakwa

Sekedar mengingatkan, sebelumnya Rojak Bahtum mengatakan kepada media ini, Lahan yang dia miliki juga diduga dikuasai oleh terdakwa Tjik Maimunah. Rojak Bahtum mulai membelinya pada bulan Juli tahun 1980, sejak itu tanah dia patok pakai kayu gelam, dikuasakan kepada pak Ponco yang letak tanah 50 meter dari tanahnya.

“Luas tanah saya 582 meter², belinya dari Mustopa Haribun yang bekerja di Biro Pembangunan Dispenda Provinsi Sumsel, Sertifikatnya atas nama H Mansyur bin Ibrahim. Dia dikuasakan ke Mustopa Haribun untuk di jualkan, jadi kami belinya dari Mustopa Haribun, saya sering kesitu karena dekat dengan Mustopa Haribun dan tidak ada masalah dari tahun 1990,” ungkapnya kepada media ini.

Tanah tersebut dibeli secara kredit dari pegawai Dispenda Provinsi karena Rojak Bahtum pensiun tahun 1995, namun menurut Rojak Bahtum, dari tahun 1980 sampai tahun 1995, tanah tersebut tak pernah ada masalah.

“Jadi pembelian tanah itu secara kolektif. Kalau ada teman-teman yang tidak tahu mengenai tanah tersebut datang menemui saya, lalu saya hantarkan ke pak Mustopa Haribun untuk mematok tanah mereka tersebut,” ujarnya.

“Saya kenal dengan ibu Ratna dari saudaranya Akib Arsalan, yang membeli tanah 2 kapling dihibahkan ke ibu Ratna untuk dibuat pesantren. Namun saya juga tahu tanah saya diserobot di tahun 2015, tahu dari ibu Ratna Juwita karena lokasi tanah Saya di Plaju dekat dengan rumah ibu Ratna, sedangkan saya pulang ke Sekip Ujung,” ungkapnya.

Lanjut Rojak Bahtum, Tanahnya itu di urus sama pak Ponco keluarganya H Mansyur bin Ibrahim setelah pak Ponco meninggal diteruskan anaknya bu Mursiyem. Namun kenyataannya tanah miliknya itu sudah di pagar beton oleh Tjik Maimunah (terdakwa,red).

“Atas kejadian itu saya langsung melapor ke Polresta Palembang sampai 2 tahun berjalan dan tidak ada tanggapan, lalu melapor ke Polda Sumsel diproses namun saya hanya dijadikan saksi saja, di kasusnya ibu Ratna Juwita Nasution. Pelaporan saya dilimpahkan kembali Polresta, kasus saya kembali mandek,” kenangnya.

(Jaja.A )

Sergapreborn

Menegakan Kebenaran Demi Hukum

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button