Ciamis

Inikah Kurban Terakhir?

Opini Nasional

Ciamis 20 Juli 2021

Opini Nasional – Sergapreborn

Oleh: Mukhlis el-Rifqi
(Master Sufi Jalanan)

Di tengah jalanan sunyi, aku menyapa angin yang membisikkan takbir. Malam takbir serasa mencekam. Suara-suara parau meraung bertakbir penuh kecemasan. Wajah -wajah tegang berlalu lalang.

“Seperti ada yang akan berpisah, ada harum melati berhembus,” gumamku.

Tak berapa lama langit menghitam. Petir menyambar dan hujan mengguyur deras. Aku masih terus menyusuri jalanan sunyi. Takbir hanya sesautan antar masjid dan mushola. Aku hanya bertakbir dalam sunyi, di pinggir jalan menikmati dingin hujan yang menusuk tulang.

Lama aku termenung seraya bertanya-tanya dalam hati.

“Mungkinkah ini Idul Adha terakhir bagi mereka yang terkolek dalam sunyi isolasi? Apakah kematian demi kematian ini isyarat pahit sang Ilahi, ” tanyaku.

Belum juga aku tersadar, handphone berdering.. “Innalillahi wa innailaihi.. Telah pulang ke rahmatullah si Fulan bin Fulan, “

Orang kaya di kampungku rupanya meninggal dunia. Disusul kemudian kematian dosen, guru, dan sahabatku. Kematian berjamaah itu akhirnya terjadi juga. Getir rasanya namun aku tak berdaya apa-apa.

Aku terus berjalan sambil bertakbir dalam hati. Ditemani arwah-arwah yang belum terbang ke langit. “Inilah hari terakhirku berkurban dan merayakan Idul Adha, ” bisik sang arwah.

Aku hanya bisa membersamai dalam sunyi. Arwah-arwah itu pun terbang dalam gelap langit hingga hujan terhenti.

Aku terus berjalan, hingga tak terasa sampai diujung jalan. Rupanya disanalah ratusan arwah menemui jasadnya untuk terakhir kali.

Salah satu arwah terlihat berontak. “Aku tak mau dicovidkan, aku gak mau dikuburkan dengan stempel covid, “

Selamat jalan sahabatku, kalian telah mencapai negeri keabadian. Semoga Alloh memberi nikmat di alam sana. Amin.
(***)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button