Kalimantan Tengah

PT. Wilmar Nabati Indonesia Diduga Rampas Tanah Warga

Sergapreborn, Sampit – Kalteng.

PT. Wilmar Nabati Indonesia (PT.WNI) Bagendang yang berlokasi di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) diduga kuat rampas tanah warga, tanpa ganti rugi dengan ahli waris.

Informasi yang berhasil diperoleh wartawan Sergapreborn, Ayub Alamsyah Ahli waris pemilik tanah mengatakan, bahwa tanah mereka seluas 2 hektar, yang beralamat seperti tersebut diatas telah dikuasai oleh pihak perusahaan besar swasta (PBS) yakni PT. Wilmar Nabati Indonesia Bagendang untuk dijadikan pelabuhan atau terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS), tanpa ada ganti rugi dengan yang bersangkutan.

“Hari ini kami bersama keluarga yang didampingi Lembaga Komnas PAN selaku kuasa pendamping dan dimonitor oleh beberapa media melakukan pengklaiman dilokasi dimaksud untuk memperjuangkan hak kami yang dirampas perusahaan nakal ini,” kata Ayub Kamis (07/08/2021) kemarin.

“Saya tidak akan pernah mundur selangkahpun untuk memperjuangkan hak kami ini sampai tuntas apapun resikonya, karena selama ini pihak perusahaan tidak menunjukan itikat baik untuk menyelesaikan permasalahan ini, “ kata Ayub.

“Bahkan tadi malam sekira jam 22.00 WIB Kamis 07/08/2021, sudah ada 2 orang anggota dari kepolisian setempat yang datang ketenda kami dilokasi klaim mengucapkan kata-kata yang bernada intimidasi dan penekanan kepada saya,” ucap Ayub.

“Kasian pian pak Ayub kalau tetap menghentikan kegiatan perusahaan ini, nanti pian akan berbenturan dengan aparat,” ujar salah satu anggota itu yang ditirukan Ayub kepada media ini.

Terkait permasalahan itu Mahdi dari lembaga Komite Nasional penyelamat Aset Negara (Komnas PAN) angkat bicara,”Saya selaku kuasa pendamping pak Ayub, sudah dua kali menyurati pihak perusahaan PT. WNI ini, pertama dengan surat nomor 43/ Komnaspan/Kalteng/VI/2021 tanggal 11 Juni 2021, perihal Konfirmasi, dan yang kedua nomor: 44/Komnaspan/VI/2021, tanggal 19 Juni 2021 dengan perihal Somasi Pertama, namun hingga hari ini tidak digubris dan tidak diresfon sama sekali oleh pihak perusahaan,” ujar Mahdi.

“Bahasa dan prilaku 2 orang oknum anggota kepolisian yang mendatangi pak Ayub tadi malam itu semestinya tidak patut ditiru dan dicontoh oleh aparat kepolisian yang lain, karena menurut saya tidak sepantasnya ucapan itu dilontarkan oleh anggota Kepolisian, ada kepentingan apa ini,” papar Mahdi.

“Seharusnya menurut saya polisi itu harus netreral, jangan seolah-olah memihak membela perusahaan dengan bahasa yang tidak etis untuk menekan dan mengintimidasi pak Ayub, apakah 2 orang oknum polisi tadi malam itu polisi perusahaan atau polisi Negara?,” tegas Mahdi.

[ Kar ]

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button