Kalimantan Tengah

Merasa Dibohongi Pembelian Tanah Korban Ancam Akan Laporkan Kepolres Kotim

Berita Investigasi

Sergapreborn, Sampit-Kalteng.

Merasa keberatan atas pembelian babarapa lembar tanah yang terletak di Desa Bangkuang Makmur Kecamatan Mentawa baru Ketapang Kabupaten KotawaringinTimur ( KOTIM ) yang dilalukan oleh mantan Kepala Desa korban berencana akan melaporkan kepolres Kotim, atas dugaan penipuan dan pembuatan surat SKPT mematok harga sebesar Rp= 1000.000. rupiah.

Sebut saja SR ( 57 ) pembeli tanah merasa kaget, tanah yang dibelinya dari salah seorang yang dibenarkan oleh mantan Kepala Desa Bangkuang Makmur bahwa tanah tersebut benar-benar miliknya setelah pembayaran lunas yang disaksikan oleh Kepala Desa ternyata tidak lama kemudian setelah dinaikan dari SKPT menjadi Sertifikat, dari pihak BPN mengatakan bahwa tanah tersebut tidak bisa dilanjutkan karna masuk kawasan hutan produksi (HP) , katanya.

Ia menambahkan, yang sangat disayangkan sebelumnya ada pembayaran tidak diberitau dulu bahwa tanah tersebut dikawasan hutan HP, saya merasa keberatan atas apa yang dilakukan oleh pihaknya , selain itu juga
SR juga tidak diberitahu oleh penjual dan pemerintah desa bahwa tanah dalam kawasan HP. saya menduga ada kongkalikong antara penjual tanah tersebut dengan pihak Desa.

Saya juga yakin bahwa tanah yang dibeli tidak masalah,karna dikuatkan oleh pihak kepala desa (Kades) membenarkan tanah milik penjual tidak berada dikawasan HP.

Setelah sepakat antara pihak penjual dan pembeli. Pemerintah desa membuatkan surat keterangan penyerahan tanah (SKPT).

SKPT tersebut ditandatangani oleh Kades Bangkuang Makmur dan Camat Mentawa Baru Ketapang, keduanya pada saat itu masih menjabat di tahun 2015.

Setelah masalah ini terungkap ketika SR ingin meningkatkan SKPT nya menjadi sertifikat di BPN Kabupaten Kotawaringin Timur.

Setelah SR melengkapi syarat ke BPN, BPN turun ke lokasi. Pihaknya menyatakan tanah yang dibeli SR tidak bisa disertifikatkan karena dalam status kawasan HP.

Tidak hanya tanah dalam kawasan HP, tanah SR juga dikuasai orang lain hingga ditanami kebun sawit.

SR membeli tanah pada tahun 2015. Sebesar 200 juta termasuk pembuatan SKPT dari seorang yang mengaku tanah miliknya.

“Saya buat SKPT bayar, perjanjiannya dari awal engga ada, setelah SKPT selesai, mau diambil,” kata SR.

“Saya diminta administrasi 10 juta sebanyak 10 SKPT dan uangnya saya serahkan dengan kepala desa,” kata SR.

Sementara mantan Kepala Desa Bangkuang Makmur, ( LS ) ketika ditemui Sergapreborn, dirumahnya Selasa 10/08/2021, sekira pukul 12.00.Wib mengatakan, terkait dengan pembuatan SKPT itu bukan saya dan saya tidak tau, tapi kalau tanda tangan yang ada itu memang tanda tangan saya tidak salah lagi, dan saya tidak pernah meminta pembuatan SKPT itu dalam saru SKPT dengan kisaran Rp= 1000.000. dan biasanya kita proses dulu dan cek lapangan apabila tidak ada masalah dengan saksi sebatas sudah klir baru kita proses pembuatan SKPT itu tersebut,kata mantan Kepala Desa.
Ia menbahkan itu misalkan terjadi kemungkinan besar dilakukan oleh Kaur Pem Sugianto ,karna seingat saya yang banyak mengurusi hal-hal termasuk tanah dia, saya minta waktu dulu untuk menemui Sugianto, menanyakan hal itu karna dia juga sekarang sudah tidak menjabat sebagai Kaur Pem lagi dan dia sekarang bekerja dibengkel jadi perlu saya ketemu dulu dengan dia, dan segera kita luruskan madalah ini agar tidak jadi masalah, kata mantan Kades Bangkuang” pungkasnya.
( Kar )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button